Margies' Blog

Sugeng Rawuh... ayo berbagi

Cari Blog Ini

Memuat...

Total Tayangan Laman

Sabtu, 06 April 2013

Menunggu Hajatan Nasional

Gegap gempita penyambutan Hajatan Nasional berupa Ujian Nasional bagi peserta didik kelas VI, kelas IX, dan kelas XII makin nyaring terdengar. Untuk menyambutnya, berbagai persiapan telah dilakukan sekolah. bahkan persiapan itu telah dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Tambahan jam pelajaran, akselerasi, doa bersama, ESQ, belajar kelompok dan terbimbing merupakan program-program rutin sekolah yang dari tahun ke tahun tak pernah terlewatkan.

Di lain pihak, menjamurnya bimbel dengan aneka label juga tak kalah sibuknya. Berbagai tawaran program mereka tawarkan untuk konsumen yang bertujuan sama yaitu sukses Ujian Nasional. Tak pelak, bimbel pun laris manis bak tahu mercon. walaupun, belum semua peserta didik benar-benar mengikuti kegiatan itu atas kesadaran diri. masih banyak dari mereka yang ikut beragam program sekadar tidak ingin ketinggalan gengsi dengan teman-teman sebayanya.

Meningkatnya suhu belajar menjelang Ujian Nasinal yang tinggal menghitung hari ini tak pelak menimbulkan berbagai efek tersendiri. Pesrta didik yang kurang memahami esensi belajar yang sesungguhnya, mungkin akan mengalami stres, depresi, bahkan putus asa. hal itu dapat menimpa siapa saja. Apalagi, berdasarkan POS UN yang dikeluarkan BSNP, soal ujian tingkat SMP dan SMA/SMK berjumlah 20 paket soal per ruang. itu berarti, sitiap siswa akan menghadapi soal ujian yang berbeda denga siswa lainnya. sebuah terobosan yang luar biasa bagi pemerintah yang berani meningkatkan kualitas ujian nasional sedemikian rupa.

Akan tetapi, bila kita jeli mengamati, tidak sedikit pula siswa yang tampak santai, tak peduli, bahkan tak merasa ada beban sedikit pun menghadapi ujian nasioanal yang tinggal menunggu minggu. Warung internet tetap penuh dengan siswa, arena bermain semacam play station  juga tetap berjubel. Di sekolah-sekolah banyak guru yang mengeluh akan sikap  "santai" mereka ini. Kalau guru cukup tegang dan dag dig dug menjelang, maka justru masih banyak siswa yang terkesan tidak peduli.

Yang menjadi pertanyaan, ada fenomena apa di balik semua ini? Benarkah para siswa terkesan kurang peduli karena mereka berasumsi kakak kakak kelas mereka dulu "nyantai" dan terbukti toh lulus juga? aha.. kalau memang benar pendapat sebagian dari mereka, lalu adakah yang salah dari sistem Ujian Nasional kita?
.
Kalau begitu, masih ada pe er besar bagi kita kaum pendidik, bila kita tidak ingin tertinggal dengan bangsa lain, yaitu Pembentukan Karakter Siswa. Sungguh prihatin kita bila melihat begitu drastisnya kemerosotan nilai-nilai karakter remaja kita. Sikap apatis, cuek, semau sendiri, tidak peduli masa depan dan sikap negatif lainnya adalah luka yang harus segera kita obati. Bila, terlambat, mungkin sepulih atau dua puluh tahun ke depan kita akan menjadi bangsa tak lagi diperhitungkan di mata dunia.

Hajatan besar Ujian Nasional tinggal beberapa hari lagi. Terselip harapan besar agar ujian nasioanal kali ini bukan sekadar rutinitas nasioanal. Berharap akan ada standardisasi mutu pendidikan yang benar melalui hasil ujian ini nanti. Ke depan, melalui kurikulum baru akan lebih tertata lagi sistem pendidikan nasional yang lebih bermartabat, menuju siswa Indonesia yang cerdas lahir batin, beriman, dan berkepribadian kuat sehingga mampu membawa negeri ini menuju kejayaan. Selamat menempuh Ujian Nasional siswa-siswaku. Di pundak kalian, negeri ini menggantungkan harapan.

Jumat, 12 Agustus 2011

Perkenalkan... ini aku, belahan jiwa dan buah hatiku


Pagi sangat cerah, ketika Allah mengizinkan kami jalan - jalan lengkap berenam. Sebuah kesempatan yang agak sulit kami dapat, mengingat dua buah hatiku yang belajar di luar kota.
Terima kasih tak terhingga pada Nya, yang telah mengajari kami cara mensyukuri nikmat ini.

Jumat, 22 Juli 2011

SILUET MASA


Oleh : Margie Setiawan

Malam merangkak naik. Di luar, bulan sabit mempercantik langit dengan sinar putihnya.Ros masih belum jua bisa memejamkan mata. Telah dibolak – baliknya majalah wanita di tangan agar kantuk datang, tapi hingga dentang jam dinding ruang tengahnya berbunyi dua belas kali, mata itu tetap segar bugar tak ada tanda – tanda kantuk menyerang.Diraihnya telepon genggam di sisi pembaringan. Senyum penuh kebahagiaan tersungging di bibir tipisnya yang masih ranum di usianya yang telah berkepala tiga itu.
Kaukah Rosi Wardani, alumnus SMA Bantul 1 angkatan 92?
Aha tentu saja aku tak bisa melupakanmu…kau tahu itu
Kau salah! Sampai kini akutak bisa melupakanmu , Ros. Kucari pengganti dirimu, tapi tak ada satu pun yang bisa sepertimu
Senang sekali, Ros. Kaulah wanita terindah yang telah mengisi hatiku, dari dulu hingga kini!

Beberapa pesan masuk di hpnya dibaca berulang – ulang. Sms – sms itu dikirim oleh orang yang sama, Prasetyo. Lelaki pujaan hatinya di SMA dulu yang telah menghilang hampir dua dasawarsa lamanya. Begitu cintanya Ros pada lelaki itu hingga sampai kini dia belum bisa menerima kehadiran siapa pun. Usianya telah genap 34 tahun, dan dia masih lajang!Namun, rupanya peristiwa sangat mengejutkan sekaligus mendebarkan dua hari lalu telah mengubah duka mendalam gadis bernama Rosi Wardani itu.Tak sengaja dia bertemu teman lama di sebuah pesta pernikahan saudaranya di Bandung. Omong punya omong ternyata Asti, teman SMA nya itu pernah berjumpa Pras dan mereka sempat bertukar nomor hp.Jadilah Sabtu sore itu hari yang sangat bersejarah bagi Ros, karena dia telah menemukan kembali separuh hatinya yang hilang begitu jauh.
Tak seperti biasanya Ros berangkat ke kantor sangat pagi hari itu. Sepertinya dia tak ingin keduluan siapa pun di kantornya. Langkah kakinya ringan dan senyum tipis senantiasa tersungging di bibirnya. Tampak semangat sekali dia pagi itu. Jam tangan di pergelangannya diliriknya,Wao, rekor nih aku. Belum juga jam setengah delapan aku dah nyampai kantor, gumamnya dalam hati.baru saja dia menginjakkan kakinya ke lantai satu kantornya, sebuah dering tanda pesan masuk berbunyi dari hpnya.cekatan diraihnya hp di tas merahnya yang serasi dengan warna sepatunya pagi itu.satu pesan belum terbaca, Pras.Deg!tiba – tiba detak jantungnya berirama lebih cepat dari biasanya. Ritme tak beraturan itu memaksa Ros menghela nafas panjang untuk mengatur kegugupan hatinya yang melonjak setinggi plafon kantornya.
Selamat pagi, Ros..semoga hari ini indah.
Entah mengapa Ros malah terdiam tak mampu segera mereplay sms yang dikirimkan pras pagi itu. Tangannya bergetar, jantungnya semakin berdetak tak beraturan.Dia berusaha menenangkan hatinya yang bergejolak hebat. Sms yang dikirim Pras singkat, tapi efeknya ternyata tak sesingkat bunyi pesan itu.Benarkah ini Pras yang selama ini aku impikan? Apakah aku tidak sedang bermimpi?Ros kembali bergumam dalam hati sambil terus berusaha menekan gejolak hatinya.
Pagi juga, Pras.terima kasih kau masih ingat aku.Akhirnya ros membalas pesan itu setelah kurang lebih lima menit hanya terpaku memandangi hpnya.Dua menit kemudian sebuah pesan masuk lagi.
Kau pasti masih tetap cantik, secantik mawar yang kukirimkan dahulu, May!Gila! dia bahkan masih suka memanggilnya dengan panggilan kesayangannya dulu, May!Ah…Pras!Rosi sangat tersanjung dengan panggilan mesra itu.
Kenapa kau panggil aku dengan nama itu, Pras? Kau jangan membangkitkan kenangan lama kita. Bukankah keadaan kita sudah berbeda? Ros membalas pesan itu dengan harap – harap cemas.Dia tahu sekarang sudah terlambat untuk mengulang kembali kenangan indah itu karena Ros sangat yakin, pras sudah menikah.
Maksudmu?
Maksudku? Tentu saja kau tak boleh begitu. Kau telah menikah. Aku tak akan ganggu kebahagiaan keluargamu.klik, ok.pesan terkirim.
Hahaha…kau sok tahu, ros. Siapa yang bilang aku dah menikah?
Ros menelan ludah. Bibirnya kelu. Tangannya kembali bergetar memegang hp. Apa? Benarkah Pras belum menikah? Benarkah dia sepertiku juga, menunnggu keajaiban akan datangnya masa di mana Sang pangeran bertemu Cinderella?Ya Tuhan…Ros semakin tak menentu. Beribu perasaan berkecamuk di dadanya. Senang, takut, cemas, berdebar,semuanya campur aduk.Tapi kebahagiaan mungkin perasaan paling dominan pagi itu.
Kau masih suka ngegombal seperti delapan belas tahun yang lalu, Pras? Akhirnya dibalas juga sms pras setelah hatinya sedikit tenang.
Oke, May.Aku nanti telepon kamu jam dua belas, ya.Sekarang aku tak mau ganggu. Kau pasti segera sibuk dengan pekerjaanmu. Dan aku juga sebentar lagi ada meeting dengan anak buahku. Met kerja ,may.Sampai nanti,Ya..
Ros masih terduduk lemas di kursi kerjanya. Tak menyangka Pras akan menghubunginya lagi dengan pesan mesra seperti itu.
“Pagi, Mbak..Duuh, tumben Mbak Ros dah nyampai kantor nih.Mimpi apa semalam kok semangat banget ?” sebuah sapaan renyah dari Fifi teman sekantornya yang cerewet mengagetkannya.
“Eh, pagi juga ,Centil.Mang gak boleh jadi karyawan rajin? Mbak harus selesaikan banyak pee r hari ini,jadi…kau mesti bantu aku beresin proposal yang belum kelar,okey?”Ros menjawab sapaan Fifi sambil tertawa lebar.
“Oke Boss. Tapi, ada syaratnya ,mbak..”Fifi mengerling lucu kea rah Rosi yang menjadi atasannya di kantor itu.
“Apaan sih?” Rosi pura – pura serius.
“Cie,beum – belum dah keluarin jurus galaknya nih bos aku!” Fifi mendekat ke arah Ros “SSSt..besok Fifi mau ambil cuti sehariiiii saja. Boleh ya, Mbak?”
“Gila kali kau, Fi! Besok Mbak ada janjian dengan client di Saga restaurant.Tentu saja aku butuh kamu siapin proposal dan tetek bengeknya,Fi,” Rosi menceramahi anak buahnya yang sedang merayunya.
“Yaah…gagal lagi dong rencana aku!,” Fifi yang diceramahi tak berkutik. Dia tahu, kalau Bossnya bilang tidak, berarti memang tak akan bisa ditembus.”Okey deh, tapi habis itu aku cuti ya, Mbak,” fifi merayu seraya mengerling pada Rosi.
“Sip!” jawab Rosi sambil membuka komputernya.Tak dihiraukannya Fifi yang nyengir sambil ngeloyor ke meja kerjanya.
Seharian itu Rosi bekerja dengan teramat semangat. Dua pe- er yang tertunda selesai kurang dari empat jam. Persiapan bertemu klien penting besok pagi juga sudah beres.jam 11.45.Haah…tak terasa sudah siang rupanya. Rosi sangat menanti jam 12 segera tiba. Pras akan meneleponnya?Aduh.tiba- tiba kegugupan menyerangnya.Seperti apakah gerangan suaranya kini? Tidakkah aku grogi bila bicara dengannya nanti? It ’s make me very nervous. Hati Ros terus bergejolak.
“Beautifull girl…wherefer you are.i knew when I saw you, you had opened the door, I knew when that I loved again..after along.. long while…nada dering beautifull girlnya Cristian Bautista tiba – tiba berdering, menambah kegugupan Rossi.Ah, tepat sekali dia. Jam 12 tepat lebih dua detik.Detik berikutnya dia telah memencet tombol hijau dengan bergetar.
“Assalaamualaikum…”walau telah berusaha menenangkan diri tetap saja tak dapat dibohongi suara Rossi bergetar menahan degupan di dada yang belum bisa dikuasainya sejak tadi.
“Waalaikumussalam, May….” Sebuah suara tenor bass yang sangat dia hafal sejak delapanbelas tahun yang lalu.Suara pria yang pernah membuatnya hampir patah hati, pria yang pernah bahkan selalu mengisi hari – harinya dari dulu hingga kini. Walau tujuh tahun belakangan ini mungkin sudah hampir dia lupakan , Rossi telah menganggapnya hilang, terbang dibawa angin.
Sejenak suara hening, dari seberang pun tak terdengar Prasetyo mengucapkan apa pun. Mungkin dia juga sedang menata hatinya yang bergejolak.
“Kau, masih hafal suaraku Ross?” suara Pras sedikit parau. Dia tampak gugup.
“Delapan belas tahun, Pras, Tapi sampai detik ini pun aku tak bisa melupakan suaramu,” Rossi menjawab dengan gugup. Tak terasa cairan bening menetes di kedua pipinya.
“Maafkan aku Ross,tapi sekali lagi sebagai yang pernah kukatakan dulu, bukan kehendakku meninggalkanmu.Sudahlah, Ross. Kini Tuhan telah mempertemukan kembali kita”. Suara dari seberang terasa berat penuh penyesalan. Rossi menghela nafas panjang. Rasa senang, benci, penuh penyesalan , dan kegugupan campur baur jadi satu.
“Ross…kau baik – baik saja?” suara Prasetyo dari seberang mencoba memecah kekakuan.” Jangan menangis ,ya.Ah, aku jadi sangat ingin berjumpa kamu sekarang. Kau pasti tetap cantik dan akan selalu cantik”, Prasetyo terus berbicara, sementara tanpa sepengetahuannnya Rossi sibuk menenangkan hati dan desiran di dada begitu mendengar pujian Pras.
“Tentu saja, aku baik – baik saja, Pras”, pelan suara Rossi menjawab pertanyaan Pras. Dia mulai mampu menguasai diri walau belum sepenuhhnya, masih sebagai melayang di planet Mars rupanya.
“Aha. Bidadariku. Kau sekarang pasti dah sukses, ya. Selamat deh. Ikut bahagia.Kerja di mana ,May?”
“ Kenapa juga masih kau panggil aku dengan panggilan gila itu, Pras?”
“Wao, kau tak suka?Aku tak akan melupakan panggilan itu, May.sampai kapan pun…” kembali desiran aneh merayap di dada Ross. Sebuah rasa yang telah hampir tak pernah dirasakannya sejak kepergian Pras delapan belas tahun yang lalu.Tak dipungkirinya, dia sangat suka Pras memanggilnya dengan nama itu.Dulu, dia pasti tersipu saat memanggilnya dengan nama itu.
Perbincangan via telepon siang itu terus mengalir. Mereka memperbincangkan semua hal. Termasuk berbagai kenangan yang nyaris terkubur di telan waktu. Hampir satu jam tak terasa mereka asyik bertelepon.
“See you next, may. Kau masih akan di kantor atau mau pulang?”
“Aku pulang jam tiga. Okey. Thanks, Pras. Bay…Asaalamualaikum”
“Waalaikumussalam”, suara Pras dari seberang menutup perbincangan paling bersejarah siang itu. Rossi terpaku di meja kerjanya. Senyum indah tersungging dari bibirnya yang merah meranum.Sebuah ketukan pintu mengagetkannya.Rupanya Agus, OB kantornya yang menenteng bungkusan nasi padang pesanannya tadi.
“ Maaf, mbak. Agak lama soalnya tadi disuruh Pak Wendi antarkan surat dulu ke PT Nasa. Nggak apa – apa kan , Mbak?” Agus menyerahkan bungkusan nasi padang kepada Rossi.
“Ah, sudahlah tak apa, Gus. Kalau nyampai jam dua baru kamu saya suruh push up tiga seri, hahaha”,Rossi menerima bungkusan lalu “ dah kembaliannya buat kamu deh , Gus.itung – itung buat depe biar besok gak telat lagi, ya.”
“Wah makasih banget, Mbak. Bisa buat Agus makan siang lima kali nih, Alhamdulillah…”Agus memasukkan kembaliannya ke saku seragam OB nya lalu beranjak pergi.
“ jangan lupa besuk antar Mbak Ross , Gus!”, teriak Rossi pada Agus yang segera membungkukkan badan dengan takzim sambil mengacungkan jempolnya kea rah Rossi.
Hari itu benar – benar indah dan surprise bagi Rossi. Seharian senyum indah selalu tersungging di bibirnya ,walaupun setumpuk pekerjaan yang semuanya deadline di depan matanya.
****
Akhir Maret. Hampir sebulan pertemuannya kembali Rossi dengan pujaan hati. Hari dan minggu yang tak pernah terlewati tanpa saling bertelepon atau sekedar kirim short message. Hari yang seandainya boleh menawar ingin dia ubah menjadi tiga puluh jam, agar lebih panjang waktu yang dia gunakan buat bernostalgia dengan Pras. Hari yang nyaris tak pernah sekali pun tanpa bertabur harum wangi bunga warna – warni. Hari yang selalu berhias dengan puji sanjung, hingga Rossa kembali percaya diri, bahkan kadang merasa menjadi wanita paling cantik di dunia. Prasetyo, lelaki tampan pujaan rossi yang mahir memainkan gitar dan organ itu memang lihai dan mampu membuat Rossi kalang kabut, dulu maupun kini.
Rintik gerimis yang berbaur dengan sinar mentari sore itu membasah kota Jakarta.Genangan – genangan kecil di sana – sini menciptakan bias – bias fatamorgana di sepanjang Jalan protokol.Kendaraan besar kecil berlalu – lalang , berkejaran, mengejar target,seolah tak peduli dengan kegundahan hati Rossi di dalam sebuah taksi yang melaju pelan menembus jalan itu. Jam di tangan Rossi menunjukkan pukul tiga lebih lima belas menit.Sesekali wanita cantik itu menghela nafas panjang, seolah ingin menahan sesuatu yang membuncah di dadanya. Ya. Wanita itu nekat mencari prass ke metropolitan, tempat Prasetyo bekerja dan tinggal. Dia ingin membuat kejutan indah untuk Prass.Padahal, sejatinya, ada perasaan risih di hatinya. Tak semestinya seorang wanita mencari laki – laki Dipandanginya bungkusan kado biru muda di dalam tas boutique yang ditentengnya. Sebuah hadiah istimewa yang akan dia berikan sebagai kejutan manis buat Prass yang hari ini tepat berusia tiga puluh lima tahun. Dibela – belainnya jauh – jauh datang dari Yogyakarta.Sebenarnya Rossi ingin minta dijemput di bandara tadi, tapi hati kecilnya menolak. Dia ingin buat kejutan untuk Prass.
“ Jalan ahmad Yani 243, Pak, jangan lupa…” Rossi mengingatkan sang sopir taksi. Tampak si sopir mengangguk takzim, tanda dia sangat kenal kota itu.
“ sudah sampai, Bu..” ucapan sopir itu mengagetkan lamunan Rossi.tak terasa, taksinya ternyata sudah masuk ke sebuah pelataran gedung megah berlantai tinggi. Sebuah gedung bertuliskan kantor Bea Cukai.sejenak Rossi termangu. Dalam pikirannya, terbayang Prass, yang mungkin salah satu pimpinan di kantor ini. Ada sedikit rasa gamang dan agak grogi. Tak menyangka, mantan kekasihnya bekerja di kantor ini. Memang selama ini Prass tidak pernah terbuka tentang pekerjaannya.Dia hanya bilang kerja di Jalan ahmad Yani 243.
“ EEnng..ini kantor Bea Cukai, Pak? “ Bertanya Rossi dengan sedikit gugup.
“ Betul, Bu. Silakan..sudah sampai”
“ Ya, terima kasih”.
Sudah pukul 16.30.Rupanya kantor masih ramai. Lima hari kerja, jadi karyawan pulang sampai pukul 17.00, piker Rossi.Wanita itu membetulkan rok panjangnya yang sedikit kusut lalu memandang berkeliling.”aduh, kok apa yang harus kulalukan, ya”. Gumam Rossi. Tiba – tiba seorang satpam mendekatinya.
“ Selamat siang, Bu, Ada yang bisa saya bantu?”
Rossi tidak segera menyahut. Sejenak dia terpaku hingga satpam kantor itu mengulangi pertanyaannya
“ Mbak..”
“ Eh, iya, Pak.” Perasaan tidak nyaman mulai menggerogoti hati Rossi. Entah mengapa tiba – tiba ingin dia mengurungkan niatnya mencari Prasetyo dan berbohong pada sarpam itu. Akan tetapi di sisi lain, dia sangat ingin bertemu dengan pujaan hatinya itu.
“Mbak ini dari mana, mencari siapa? ‘ Tanya sang satpam dengan cukup sopan.
“ Begini, Mas. Apa di kantor ini ada yang bernama Bapak Prasetyo?” akhirnya meluncur juga sebuah pertanyaan dari mulut Rossi.
‘ Prasetyo siapa, ya Mbak? Wah, maaf. Karyawan di sini banyak sekali. Apa jabatan beliau?”
Rossi gelagapan. Dia bahkan tidak pernah Tanya apa jabatan Prasetyo di kantor ini.
“ Ehm…saya sendiri gak begitu paham, Mas.’
“ Wah, agak sulit bagi saya untuk mencarinya, Bu. Kalau ibu bisa menyebutkan minimal divisinya saya akan carikan data di computer, Bu.”
Wah, satpam yang baik. Ternyata di Jakarta ada juga orang yang ramah semacam satpam ini.Pikir Rossi dalam hati.
“ Ehm.. kami teman lama, Mas. Beliau hanya menyebutkan kantornya, tanpa menyebut nama jabatannya, tuh!”
“ Ciri – cirinya?” Tanya satpam itu lagi.
Rossi tentu saja malu untuk menyebutkan bahwa cirri Prasetyo adalah berwajah tampan, pinter main music, dan sangat mencintai Rossi. Hahaha..itu adalah ciri konyol.
“ Apa ya, Pak?” kembali Rossi seperti orang linglung. “ Aha…dia berambut hitam berombak, berkumis,dan tampan!” jawab Rossi sambil terkekeh. Satpam itu juga ikut tertawa mendengar jawaban konyol tamunya.
“Ah si Embak bisa saja.Saya juga tampan, dan berkumis lho, Mbak!’Satpam itu kembali tertawa.
Rossi mulai putus asa.Menyesal aku tak pernah Tanya dengan jelas tentang Prasetyo. Kalau dia hubungi Pras lewat hp, berarti program surprise yang telah dirancangnya akan berakhir di pelataran Kantor itu. Maka diurungkan niatnya memencet hape.Mungkin aku harus mengeksekusi proyekku di palataran ini. Gumam Rossi nyaris putus asa.
“ Eh.. sebentar, Mbak”,berkata satpam itu dengan nada agak tinggi tanda dia mengetahui sesuatu.
“ Apa, Mas? Dah ketemu kan? “
“ Apakah dia Prasetyo Utomo?”
Sebuah sinar indah berkelebat di depan mata Rossi. Satpam itu menyebut nama panjang Prass.
“ Seratus, Mas! Gimana, anda kenal kan? “berbinar mata Rossi demi disebutnya nama itu.
Tampak satpam itu memandang kearah Rossi.
“Mbak ini siapanya?”
“ Saya..eh..temannya , Mas. “Rossi gugup mengucapkan kata teman. Dia malu untuk mengatakan bahwa dirinya adalah kekasih Prass.
“ Tapi, Mbak..” tampak satpam itu ragu dalam berkata.
“ Apa lagi to Mas?” Sudahlah…tolong bilang kalau ada tamu menunggu di lobi kantor gitu, Mas.
“ Mbak…”
“ Ada apa? “ Rossi mulai ikut – ikutan bingung dengan keraguan sang satpam.
“ Apa betul mbak ini adalah teman Mas pras?”
“ Memangnya kenapa?” Tanya Rossi agak sewot.
“ Mari kuantar ke tempat mas Prasetyo. Dia tidak di sini kok, mbak!” mandadak satpam itu ngeloyor pergi. Rupanya dia mengambil motor di tempat parkir.
“ Ayo, bonceng!”
‘ Lho, piye to? Apa pak Pras tidak kerja di sini, Mas? “ Rossi keheranan dengan sikap satpam itu.Yang ditanya hanya menjawab lirih.setelah itu motor sang satpam melaju agak cepat menuju jalan yang berlawanan arah dengan jalan yang ditempuhnya tadi. Entah mengapa ada perasaan tak enak menyelinap di bilik hati Rossi. Dia sampai – sampai tidak takut atau curiga kepada satpam yang baru dikenalnya sepuluh menit yang lalu. Rasa ingin jumpa yang tak tertahankan membuat Rossi tak banyak berfikir lagi.Rintik hujan masih berderai ketka motot tiba – tiba berhenti di sebuah gang kecil yang agak kumuh, tapi ramai oleh aktivitas warga. Rupanya sebuah pasar sore atau pasar krempyeng, begitu biasa di jawa disebut. Satpam itu tampak mengedarkan pandangaannya kea rah pasar yang berjarak kurang dari lima belas meter dari tempatnya berdiri. Dia tampak celingukan mencari seseorang dan tanpa berkata sepatah kata pun. Sedangkan Rossi sendiri sibuk dengan kebingungannya.
“ Mbak…” tiba – tiba satpam itu menunjukkkan tanggannya ke arah seseorang . “yang itukah orangnya?”
Terkesiap dada Rossi begitu dia melihat pemandangan yang tak pernah terbayang sebelumnya. Seorang lelaki berkaos lusuh, warna putih yang sudah tak bisa dibilang putih lagi. Celana komprang warna hitam dan sandal jepit belel. Walaupun sudah jauh berubah, Rossi sangat hafal. Lelaki yang bercambang semrawut dan berambut gondrong acak – acakan itu rupanya adalah Prasetyo Utomo. Lelaki yang bertahun – tahun ditunggunya sampai dia belum menikah hingga usia di atas kepala tiga. Lelaki yang selalu menghiasi setiap mimpi di tidurnya, lelaki yang dulu selalu menghiburnya tatkala Rossi putus asa karena masalah keluarga.Lelaki yang cerdas dan pantang menyerah.Rossi hampir tak percaya dengan pemandangan di depan matanya.
“ Mbak, betul diakah yang mbak cari? Dia mantan pesuruh di kantor kami. Tapi sudah keluar sejak setahun yang lalu. Sekarang jadi kuli panggul di pasar ini. Dan anak laki – laki kecil berkaus coklat di sampingnya itu adalah anaknya yang ketiga…”
Kalimat terakhir sang satpam semakin membuat Rossi nyaris kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Dia sudah tak bisa lagi menahan tubuhnya yang lemas tak berdaya. Gerimis semakin deras, mengguyur sudut metropolitan yang kejam dan tak ampun pada siapa pun.

©©©
Pelajaran Mengarang
Oleh seno Gumira Aji Darma
Pelajaran mengarang sudah dimulai.
Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang. Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”. Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.
Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.
Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, di lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.
“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.
***Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.
“Mama, apakah Sandra punya Papa?”
“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”
Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya.
Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.
“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana.
Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.
“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.
“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit biru diluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.
***
Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi.
Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.
“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?”
Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”
Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.
“Mama kerja apa, sih?”
Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.
Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …”
Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.
“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”
Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …
Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.
DITUNGGU DI MANDARIN
KAMAR: 505, PKL 20.00
Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.
***
Empat puluh menit lewat sudah.
“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.
Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas.
Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.
“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.
Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.
Ia juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.
“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.
Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah.
Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.
Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur…

Palmerah, 30 November 1991
*) Dimuat di harian Kompas, 5 Januari 1992. Terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1993.

Master advanced features - Share

Master advanced features - Share